Artikel

BAHASA DAN GENDER

Bahasa merupakan satu sistem yang digunakan sebagai alat perhubungan dalam lingkungan satu kelompok manusia (Kamus Dewan, 2007). Penggunaan bahasa dapat menggambarkan kecenderungan masyarakat penuturnya. Oleh yang demikian, untuk menjelaskan bahasa haruslah melibatkan aspek-aspek sosial masyarakat tersebut seperti strata sosial, umur, lingkungan dan lain-lain bergantung kepada penggunaannya. Salah satu ciri yang berkaitan dengan penggunaan bahasa ialah faktor gender.

Dalam mempelajari bahasa yang berhubungan dengan sosial budaya akan menghasilkan empat kemungkinan. Pertama, struktur sosial dapat mempengaruhi dan menentukan struktur atau perilaku bahasa. Kedua, struktur dan perilaku bahasa dapat mempengaruhi dan menentukan struktur sosial. Ketiga, hubungan keduanya adalah timbal balik. Keempat, struktur sosial dan struktur bahasa sama sekali tidak berhubungan.

Bila kita mengambil kemungkinan pertama, maka bahasa adalah hasil konsensus masyarakat. Konsesus itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh dominasi penguasa yang ada karena merekalah yang punya kekuatan untuk mengeluarkan kebijakan. Dalam bahasa Indonesia, memang ada satuan-satuan lingual, yang secara seksis biologis untuk membedakan gender, seperti fonem /a/ untuk gender maskulin dan fonem /i/ untuk gender feminin.

Gender merujuk kepada perbedaan karakter lelaki dan perempuan berdasarkan kepada konstruksi sosial, budaya, status dan peranannya dalam masyarakat. Namun, terdapat banyak perbedaan dalam penggunaan bahasa yang berkaitan dengan gender. Dalam kaitan bahasa, kehidupan sosio politik dan budaya jelas menunjukkan bahwa bahasa lelaki memang berbeda dengan bahasa wanita. Perbedaan yang berlaku di antara lelaki dan wanita dapat dilihat melalui beberapa ciri antaranya ciri-ciri fisikal, suara, dan kemahiran bertutur.

Bahasa layaknya gender. Seperti Burke, Cheris Kramarae meyakini bahwa fitur utama dari dunia adalah sifat linguistiknya serta kata-kata dan sintaksis dalam struktur pesan dari pemikiran seseorang serta interaksi yang mempunyai pengaruh besar pada bagaimana kita mengarungi dunia. Implikasi yang timbul dari bahasa adalah perhatian utama Kramarae, sebagaimana penelusurannya pada bagaimana cara pesan memperlakukan wanita dan pria secara berbeda. Pengalaman seseorang tidak mungkin lepas dari pengaruh bahasa. Bahkan, kategori laki-laki dan wanita adalah hasil dari pembentukan secara linguistik. Dengan kata lain, kita “Dididik untuk melihat dua jenis kelamin. Kemudian, kita melakukan banyak kegiatan untuk terus melihat hanya dua jenis kelamin ini”.

Sistem bahasa memiliki hubungan kekuaasaan yang ditambahkan didalamnya dan mereka yang menjadi bagian dari sistem linguistik yang dominan, cenderung memiliki persepsi mereka sendiri, mengalami dan mode ekspresi yang menyatu dalam bahasa.

Edwin Ardener mengamati bahwa antropolog cenderung menggolongkan sebuah budaya dalam istilah maskulin, menyarankan bahwa etnografi itu semu pada pengamatan laki-laki dalam sebuah kebudayaan. Selain itu, bahwa bahasa asli dari sebuah kebudayaan memiliki unsur bias yang melekat pada pria, bahwa pria menciptakan pemaknaan terhadap suatu kelompok dan bahwa suara feminim ditekan atau “dihilangkan”. Penghilangan wanita dalam penelitian Ardener, membawa ketidakberdayaan wanita untuk mengekspresikan diri mereka sendiri dalam gaya bahasa pria.

Menurut para ahli sarjana memperlihatkan kepada kita bahwa kaum wanita itu mempunyai ciri-ciri nilai bahasa yang lebih tinggi berbanding lelaki. Perkara ini dapat kita lihat dalam pergaulan sehari-hari di antara lelaki dan wanita. Bahasa kaum wanita didapati lebih sopan daripada bahasa kaum lelaki yang lebih kerap menggunakan kata-kata kesat. Rata-rata kaum wanita lebih banyak menggunakan bahasa sopan seperti kata ‘maaf’, ‘terima kasih’ dan sebagainya. Namun berlainan pula apabila seseorang wanita itu berada dalam keadaan marah dan sikap tidak senang maka mereka akan lebih banyak menggunakan perkataan-perkataan yang bersifat eufemisme ‘berlapik” yang lebih sedap didengar kerana wanita ingin menjaga hati orang lain terutama dalam pertuturan berbanding lelaki.

Ketegasan dalam berbahasa bagi kaum lelaki itu mungkin disebabkan lelaki yang mempunyai sifat keberanian, kematangan, mempunyai kekuatan dan kegagahan berbanding wanita. Malah lelaki mempunyai peranan dan tanggungjawab yang berat berbanding wanita terutama tugas dalam mencari nafkah untuk menyara keluarga kerana tugas itu memangdipikul oleh kaum lelaki. Walau bagaimanapun, berlainan dengan kaum lelaki yang bersifat wanita sering menggunakan variasi bahasa wanita dan sebaliknya wanita yang bersifat lelaki lebih gemar kepada variasi bahasa lelaki.

Wanita lebih bergantung pada ekspresi non verbal dan menggunakan bentuk non verbal yang berbeda daripada laki-laki. Sebagai contoh, ekspresi wajah, penghilangan vokal, dan gerak tubuh lebih penting dalam pembahasan wanita daripada pria.

Karya bahasa dan kekuasaan menggambarkan sebuah cara bagi karya akdemisi feminis, untuk meningkatkan kesadaran tentang hubungan kekuasaan dan menyarankan strategi untuk meningkatkan kekuatan dari wanita. Selain itu, jenis karya lain yang terkadang berbeda, yaitu sejenis karya feminis yang melibatkan pengenalan terhadap bentuk strategis dari komunikasi yang sifatnya lebih feminim daripada semua yang sudah ada pada bahasa.

Gaya Feminim. Teori gaya feminim dianjurkan pertama kali oleh Campbell dimana inti teorinya adalah bahwa gaya feminim berasal dari apa yang telah terhubung pada apa yang disebut oleh Campbell “craft learning”. Dalam hal ini, campbell tidak hanya memaknai keahlian secara harfiah yang secara tradisional berhubungan dengan ibu rumah tangga dan dunia ibu (peran feminim), seperti halnya menjahit dan memasak, tetapi juga keahlian secara emosional, seperti pemeliharaan, empati dan alasan yang konkret.

Dengan tradisi sosiokultural, kita bergerak dari elemen-elemen pesan terhadap keterkaitan yang lebih besar mengenai cara pesan menciptakan hubungan antar individu dalam kelompok dan budaya masyarakat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s