Materi Kuliah

DAKWAH KULTURAL DAN DAKWAH STRUKTURAL

  1. PENDAHULUAN

Dakwah adalah usaha-usaha menyerukan dan menyampaikan kepada perorangan manusia dan seluruh umat menusia konsepsi Islam tentang pandangan dan tujuan hidup manusia di dunia ini, dan yang meliputi amar ma’ruf nahi munkar dengan berbagai macam cara dan media yang diperbolehkan akhlak dan membimbing pengalamannya dalam perikehidupan bermasyarakat dan perikehidupan bernegara.

Dengan demikian dakwah merupakan bagian yang sangat esensial dalam kehidupan seorang muslim, dimana esensinya berada pada ajakan dorongan (motivasi), rangsangan serta bimbingan terhadap orang lain untuk menerima ajaran agama Islam dengan penuh kesadaran demi keuntungan dirinya dan bukan untuk kepentingan pengajaknya. Dalam makalah ini penulis akan memaparkan sedikit banyak tentang apa, bagaimana dan metode dakwah kultural dan struktural.

 

  1. RUMUSAN MASALAH
  1. Apa pengertian dakwah kultural dan dakwah struktural?

  2. Bagaimana metode dakwah kultural dan dakwah struktural?

  3. Bagaimana menyikapi dakwah kultular dan struktural?

 

  1. PEMBAHASAN
  1. Pengertian Dakwah Kultural dan Dakwah Struktural

  1. Dakwah Kultural

Dakwah kultural adalah aktivitas dakwah yang menekankan pendekatan Islam kultural. Islam kultural adalah salah satu pendekatan yang berusaha meninjau kembali kaitan doktrin yang formal antara Islam dan politk atau Islam dan negara.1

Dakwah kultural hadir untuk mengukuhkan kearifan-kearifan lokal yang ada pada suatu pola budaya tertentu dengan cara memisahkannya dari unsur-unsur yang bertentangan dengan nilai-nilai

Dakwah kultural tidak menganggap power politik sebagai satu-satunya alat perjuangan dakwah. Dakwah kultural menjelaskan, bahwa dakwah itu sejatinya adalah membawa masyarakat agar mengenal kebaikan universal, kebaikan yang diakui oleh semua manusia tanpa mengenal batas ruang dan waktu.2

Dakwah Kultural memiliki peran yang sangat penting dalam kelanjutan misi Islam di Bumi ini. Suatu peran yang tak diwarisi Islam Politik atau struktural yang hanya mengejar kekuasaan yang instan. Oleh karena itu, dakwah kultular harus tetap ada hingga akhir zaman. Menurut Prof. Dr. Said Aqil Siradji, M.A., jika dilihat secara hiostoris dakwah kultural sudah ada sejak zaman Muawiyah yang dipelopori oleh Hasan Bashri (w. 110 H) yaitu dengan mendirikan forum kajian yang nantinya melahirkan para ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, hingga kemudian diteruskan oleh para Walisongo, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad dahlan dan lain sebagainya.3

Dalam permainannya yang dimainkan oleh cendekiawan Muslim, dakwah Kultural mempunyai dua fungsi Utama yaitu fungsi ke atas dan fungsi kebawah. Dalam fungsinya ke lapisan atas antara lain adalah tindakan dakwah yang mengartikulasikan aspirasi rakyat (umat muslim) terhadap kekuasaan. Fungsi ini untuk mengekspresikan aspirasi rakyat yang tidak mampu mereka ekspresikan sendiri dan karena ketidak mampuan parlemter untuk mengartikulasi aspirai rakyat. Fungsi ini berbeda dengan pola dakwah struktural karena pada fungsi ini lebih menekankan pada tersalurkannya aspirasi masyarakat bawah pada kalangan penentu kebijakan.

Sedangkan fungsi dakwah kultural yang bersifat ke bawah adalah penyelenggaraan dakwah dalam bentuk penerjemahan ide-ide intelektual tingkat atas bagi umat muslim serta rakyat umumnya untuk membawakan transformasi sosial. Hal yang paling utama dalam fungsi ini adalah penerjemahan sumber-sumber agama (Al-Quran dan Sunnah) sebagai way of life. Fungsi dakwah kultular ini bernilai praktis dan mengambil bentuk utama dakwah bil hal.4

  1. Dakwah Struktural

Dakwah Struktural adalah gerakan dakwah yang berada dalam kekuasaan. Aktivis dakwah ini memanfaatkan struktur sosial, politik maupun ekonomi untuk mendakwahkan ajaran Islam. Jadi, dalam teori ini, negara dipandang sebagai alat yang pailing strategis untuk berdakwah. Di dalam dakwah struktural ini telah menyatakan suatu tesis bahwa dakwah yang sesungguhnya adalah aktivisme Islam yang berusaha mewujudkan negara yang berasaskan Islam.

Perkembangan dakwah struktural ini sudah dapat ditemukan pada gerakan politik umat Islam pada masa klasik. Sebagai contoh adalah penggulingan \dinasti Umayyah dari kursi kekhalifahan yang dilakukan oleh eksponen dinasti abasiyah yang mana itu dianggap sebagai gerakan dakwah. Hal yang sama juga telah dilakukan oleh Syi’ah Islamiyyah. Gerakan politiknya yang diawali dengan pengiriman para aktivis politik ke Afrika Utara sebagai langkah strategis bagi persiapan pembentukan dinasti Fatimiyyah yang akan didirikan di sana. Bahkan, istilah dakwah juga telah dipakai untuk menyebut wilayah politik dinasti Fatimiyyah.5

  1. Konsep Dakwah Kultural dan Dakwah Struktural
  1. Konsep Dakwah Kultural

Dalam penyampaiannya, Dakwah Kultular sangat mengedepankan penanaman nilai, kesadaran, kepahaman ideologi dari sasaran dakwah.

Dakwah kultular melibatkan kajian antara disiplin Ilmu dalam rangka meningkatkan serta memberdayakan masyarakat. Aktivitas dakwah kultular meliputi seluruh aspek kehidupan, baik yang menyangkut aspek sosial budaya, pendidikan, ekonomi, kesehatan, alam sekitar dan lain sebagainya. Keberhasilan dakwah kultular ditandai dengan teraktualisasikan dan terfungsikannya nilai-nilai islam dalam kehidupan pribadi, rumah tangga kelompok, dan masyarakat.

Dalam konsep dakwah kultular ini juga memuat ciri-ciri dari pada dakwah Kultular itu sendiri yaitu :

  1. Menggunakan dalil dan ayat al-quran.
  2. Lebih menekankan pemahaman , persuasif terhadap sasaran dakwah agar sasaran dakwah melakukan amar maruf dan nahyi munkar.

  3. Tidak mengharuskan sang dai masuk ke system.

Sebagai contoh dakwah kultular adalah : Tarbiyah, dakwah dengan menggunakan ta’lim, lembaga yang mempresentasikan LDK dengan Syi’arnya dll.

  1. Konsep Dakwah Struktural

Dakwah ini lebih menekankan pada tercapainya tujuan dakwah tersebut.

Ciri dari dakwah ini adalah :

  1. Menggunakan rasionalisasi akal dari pada dalil.
  2. Lebih menekankan pemaksaan dan kondisi sehingga sang mad’u belum tentu memiliki keadaran.

  3. Mengharuskan sang dai masuk ke struktur.

Contoh dakwah struktural ini adalah : Ikhwah di Struktur kampus membuat kebijakan untuk mencegah acara yang berbau maksiat Misal membuat jam malam.6

  1. Menyikapi Dakwah Kultular dan Struktural

Dakwah Kultukar dan dakwah strukturakal masing-masing berbeda. Masing-masing mempunyai stretegi sendiri-sendiri dalam penguatannya. Jika kedua dakwah ini bergabung maka dakwah akan melengkapi satu sama lain. Namun dalam penerapannya, kedua dakwah ini pun tidak terlepas dari berbagai masalah. Sebagai contoh adalah permasalahan ekonomi. Ketidak merataan ekonomi membuat kedua dakwah ini mengalami hambatan. Selain dari permasalahan ekonomi tersebut mengakibatkan ketimpangan pertumbuhhan agama di Indonesia. Setidaknya ada dua hal yang dapat kita cermati dari masalah-masalah tersebut yaitu : pertama, adanya “efektivitas” dakwah suatu agama yang ternyata tumbuh lebih cepat dengan didukung oleh penerapan metode dan sarana yang memadai. Kedua, di lain pihak khususnya dalam umat Islam, terjadi situasi “ketinggalan” seperti ditunjukkan oleh penurunan relatif dari pemeluknya yang disebabkan oleh kurangnya pengkajian penerapan metode dakwah “tepat guna dan kreatif” serta kurangnya sarana yang memadai.7

Selain dari masalah-masalah di atas, ada pula masalah-masalah lain yang ditimbulkan, yaitu :

  1. Adanya oerientasi ekslusif yang ikut memperkokoh dikotomi santri dan non santri.

  2. Lemahnya pranata dan mekanisme jaringan yang menghubungkan antar subkultural di masyarakat.

  3. Adanya potensi yang masih belum cukup dikembangkan, untuk umat Islam di antaranya dalam rangka mengembangkan pendidikan pesantren dan majelis Ta’lim.

  4. Tenaga kerja yang melimpah dan keterbatasan lapangaan pekerjaan di luar sektor pertanian.

Tentunya masalah-masalah yang menghambat dakwah bukan saja permasalahan-permasalahan yang tertera di atas. Namun tentunya masih banyak lagi permasalahan-permasalahan yang bisa kita kaji sendiri. Kemudian, dalam menyikapi berbagai masalah di atas, seorang subjek dakwah harus pandai-pandai mengambil k=tindakan dalam menyelasaikan masalah-masalah di atas.

Al-Quran dan Sunnah memuat ajaran yang menuntut setiap muslim untuk berdakwah, baik dalam arti sempit maupun luas. Dalam pengertian luas, dakwah bukan hanya ,menjadi tuntutan agama semata, tetapi juga tuntutan kemanusiaan dan kebenaran universal. Kemudian dalam pengertian sempit yaitu dalam penyelesaian problem-problem kemanusiaan yang mana di dalamnya termasuk problem sosial.

Berikut adalah beberapa strategi di mana dakwah bisa menyelesaikan problem-problem yang ada :

  1. Dakwah harus dimulai dengan mencari kebutuhan masyarakat. Kebutuhan yang dimaksud adalah kebutuhan secara objektif dan kebutuhan yang dirasakan masyarakat setempat yang perlu mendapat perhatian.

  2. Dakwah dilakukan secara terpadu.

  3. Dakwah dilakukan dengan pendekatan partisipasi dari bawah. Hal ini bertujuan bahwa ide yang ditawarkan mendapat kesepakatan masyarakat.

  4. Dakwah dilaksanakan melalui proses sistematika pemecahan masalah.

  5. Dalam berdakwah gunakanlah teknologi yang sesuai dengan tepat guna.

  6. Program dakwah dilaksanakan melalui tenaga dai yang bertindak sebagai motivator.

  7. Dakwah didasarkan atas asas swadaya dan kerjasama. Hal ini bermaksud bahwa dakwah harus berangkat dari kemampuan diri sendiri dan kerjasama dari potensi-potensi yang ada. Dan bentuan dari pihak luar hanya dijadikan menjadi pelengkap saja. 8

  1. KESIMPULAN

Dari peenjelasan di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa dakwah kultular adalah dakwah yang bersifat akomodatif terhadap nilai budaya tertentu secara inovatif dan kreatif tanpa menghilangkan aspek subsatansial agama. Kedua, menekankan pentingnya kearifan dalam memahami kebudayaan
komunitas tertentu sebagai sasaran dakwah. Sedangkan dakwah struktural adalah kegiatan dakwah yang menjadikan kekuasaan, birokrasi, kekuatan politik sebagai alat untuk memperjuangkan Islam. Dalam penerapannya, kedua dakwah ini mempunyai beberapa masalah. Namun tentunya ada cara-cara tersendiri yang dapat kita gunakan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

  1. PENUTUP

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna baik dari segi isi maupun dari segi penulisannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dan memotivasi untuk lebih baik. Dan penulis berharap makalah ini dapat berguna bagi anda semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

Ismail ,Ilyas, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, Jakarta: Kencana, 2011.

Siradji, Said Aqiel, M.A., Islam Kebangsaan Fiqh Demokratik Kaum santri, Jakarta : Pustaka Ciganjur , Cet. 1, 1999.

Amin ,Samsul Munir , Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah, 2009.

Canard, M., “Da’wa”, dalam B. Lewis, CH Pellat and J Schacht, The Ensiklopiedea Of Islam, Cet. II, Leiden: Ej. Brill,1986.

http:/ /kultur/Dakwah Kultural dan Struktural Mahasiswa « Kammitasikmalaya’s Weblog.htm

1 Muhammad Sulthon, Desain Ilmu Dakwah Kajian Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, Mei 2003, hlm. 34

 

2 Ilyas Ismail, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama dan Peradaban Islam, Jakarta: Kencana, 2011, hlm. 249

 

3 Prof. Dr. KH. Said Aqiel Siradji, M.A., Islam Kebangsaan Fiqh Demokratik Kaum santri, Jakarta : Pustaka Ciganjur , Cet. 1, 1999, hlm. 35.

 

4 Samsul Munir Amin, Ilmu Dakwah, Jakarta: Amzah, 2009, halm. 166.

 

5 M. Canard, “Da’wa”, dalam B. Lewis, CH Pellat and J Schacht, The Ensiklopiedea Of Islam, Cet. II, Leiden: Ej. Brill,1986, halm. 168-169.

 

6 http:/ /kultur/Dakwah Kultural dan Struktural Mahasiswa « Kammitasikmalaya’s Weblog.htm

 

7 Samsul Munir Amin, Op. Cit., halm. 167.

 

8 Muhammad Sulthon, op.cit., hlm. 35-37.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s