Dakwah

`Meminimalisir Keserakahan Dengan Syukur

الحمد لله اهل الحمد و الثنأ . المنفرد برداء الكبريأ . المتوحد با الصفات المجد و العلاء . المؤيد صفوة الاولياء . بقوة على السراء والضراء . و الشكر على البلاء و النعماء . والصلاة على محمد سيد الانبياء . وعلى أصحابه سادة الأصفياء . وعلى اله قادة البررة الأتقياء . صلاة محروسة بالدوام عن الفناء . ومصونة بالتعقب عن التصريم والإنقضاء.
أما بعد . فيأيهاالناس . إتقواالله … قد فاز من الإتقياء و قد خاب من له البلاء.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah swt, Mengapa kita harus b ersyukur, karena banyak sekali kreasi, prestasi dan reputasi yang kita perbuat, semua ini tidak lain adalah semata-mata merupakan pertolongan dari Allah swt.

Kedua kalinya dan shalawat serta salam terucap untuk baginda Nabi Muhammad saw sebagai pembawa risalah yang menunjukkan antara yang haq dan yang bathil.

Ketiga kalinya saya berwasiat kepada diri saya sendiri khususnya dan berwasiat kepada pemirsa yang berbahagia pada umumnya, marilah kita tingkatkan kualitas keimanan kita kepada Allah dengan cara menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi segala larangan Allah, diharapkan dengan jalan taqwa tersebut dapat membawa kita kepada kebahagiaan yang abadi. Amin ya rabbal ‘alamin.

Kalau kita mau merenung sejenak maka kita akan mendapati diri kita ini adalah termasuk orang-orang yang pandai meminta tetapi tidak pandai untuk bersyukur, hampir setiap kita selesai melaksanakan sholat kita berdo’a memohon agar keidupan ini di jadikan menjadi kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat tetapi kita tidak pernah prihatin dengan cara kita memanfaatkan karunia yang telah diberikan kepada kita.

Imam ghazali pernah menyebutkan dalam kitabnya minhajul abidin bahwa orang yang bersyukur adalah bagaikan orang yang memberi makanan kepada hewan (burung) piaraan dalam sangkar, jika hewan tersebut diberi makan yang cukup dan di beri jodoh maka hewan tersebut akan bertambah banyak, paling tidak mungkin demikianlah pesan yang dapat di ambil dari al-Qur’an yang berbunyi :
فمن يشكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله غني حميـد
Barang siapa yang bersyukur kepada Allah maka sama halnya ia bersyukur kepada dirinya dan barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Allah maha kaya
Dari ayat di atas betapa manusia teramat dhalim terhadap drinya sendiri dimana ia menghabiskan nikmat tetapi tidak mau bersyukur kepada sang pemberi nikmat.
Sepintas seperti yang dikatakan oleh Imam Nawawi yang disebutkan dalam kitab Nuru adh-dhalam adalah sebagai berikut :
الشكر هو تصرف العبد بما أنعم به
Menggunakan nikmat yang telah diberikan kepada kita atas dasar yang dikehendaki oleh yang memberi nikmat

Dari definisi di atas, berarti kita harus mendistribusikan segala bentuk pemberian untuk mencari ridha-Nya semata-mata. Itulah inti dari tata cara bersyukur, jika kita dikarunia kedamaian maka kita upayakan perdamaian tersebut, kita diberi kemampuan untuk menolong orang lain maka hendaknya kita tolong orang tersebut dan seterusnya. Bagi orang yang tidak bisa mensyukuri nikmat Allah maka menyebabkan terjerembab ke dalam jurang keserakahan, malah menanamkan kebencian baru dalam perjalanan hidupnya, karena orang yang tidak bisa bersyukur akan terus-menerus merasa kekurangan dan kekurangan membuat keresahan dalam hati, keresahan akan membuahkan ketersiksaan, dan berlanjut tidak adanya kepuasan dengan apa yang diperoleh, dari sini manusia mulai kehilangan keseimbangan kontrol kepada dirinya, dan jika demikian ini berlanjut, maka akan menyebabkan kerusakan dan perusakan termasuk kerusakan moral. Pada kesimpulan akhirnya orang yang tidak pandai bersyukur dapat merusak moral itu sendiri dan akan muncul sifat serakah dalam dirinya.

Pada kesimpulan akhirnya bahwa orang yang mendapatkan nikmat tetapi tidak pandai bersyukur akan menjadi bumerang bagi dirnya sendiri, dan masyrakat sekitarnya. Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang demikian, amin ya rabbal ‘alamin.

Paling tidak, ada beberapa faktor yang menyebabkan orang itu terjerumus ke dalam keserakan dan kehilangan ketenangan bathin dalam menjalanin kehidupan ini, Pertama, ibadah yang dilaukan tidak seimbang dengan waktu yang dipakai untuk beribadah kepada Allah, sehingga kreasi yang tercipta selalu menjadi bahan untuk bermegah-megahan kepada manusia yang lain, dan tanpa disadari sedikit-demi sedikit akan menimbulkan antipati dari masyarakat lain karena kesombongan dan keberhasilannya itu. Perasaan yang demikian akhirnya akan menimbulkan keresahan sifat egois, dan tidak manusiawi dalam memperlakukan orang lain, jika telah tertanam ketidakadilan maka orang yang demikian ini akan berakibat perpecahan dan keretakan jalinan hubungan sosial dalam sebuah masyarakat.

Kedua, pendapatan yang diperoleh tidak seimbang dengan sedekah dikeluarkan, dalam kondisi yang demikian ini, semakin banyak nikmat yang diperoleh semakin kikir pula terhadap tetangga, dan semakin banyak harta yang yang didapat maka semakin sombong pula suasana ruang bathinnya, karena dia menyangka bahwa itu hanyalah semata-mata dari hasil rekayasanya sendiri, orang yang seprti ini tidak pernah mengira kalau keberhasilan yang ia capai ada campur tangan dari karunia Allah swt, dan melalui tangannya rizki orang-orang tak mampu dilewatkan melalui usahanya itu. Ia akan haus dan selalu berburu harta dalam hidupnya tanpa memperdulikan tetangga yang merengek-rengek minta dikasihani dan serba kekurangan dalam kesehariannya. Anjuran agama untuk menolong orang lain tidak pernah hinggap dalam pendengaran meraka. telinga tidak mempunyai fungsi untuk mendengarkan nasehat keagamaan.

Ketiga, bertambahnya ilmu tidak diiringi dengan bertambahnya kasih sayang terhadap sesama, akbitnya semakin banyak kemampuan yang didapat, maka semakin pandai pula dalam berbuat culas, curang, dan menipu terhadap orang-orang yang tingkat keilmuannya masih dibawah level-nya, dengan kepandaiannya semakin lincah mempermainkan hukum, dengan kepandaiannya, semakin pandai pula cara memakan harta orang lain, tetangga atau negara. Hal ini, terbukti dengan munculnya sederet nama-nama koruptor ulung di negara kita ini, bukan dari kalangan orang-orang yang bodoh, tetapi mereka muncul dari orang-orang yang benar-benar memahami peta perpolitikan dan peta perekonomian bangsa, sehingga rakyat menjerit dan meronta untuk berunjuk rasa agar mereka diberi hukuman yang setimpal dengan kesalahan yang mereka perbuat. Tetapi acap kali kepadaiannya itu dipakai untuk melepaskan diri dari jeratan hukum yang akan menimpanya.

Pencuri aset negara, sama halnya dengan mencuri aset rakyatnya, kasih sayang terhadap orang yang tertindas hampir tak terlintas dalam benaknya lagi yang ada hanya bagaimana meraup kekayaan semaksimal mungkin tanpa memprtimbangkan kepentingan orang lain. orang yang telah terjangkit penyakit demikian ini sama saja dengan mempunyai hati tetapi hatinya telah tertutup oleh kebenaran. Dan ada kemiripan dengan kehidupan hewan yang memangsa temanya sendiri, barangkali ketiga sifat tersebut digambarkan dalam al-Qur’an sebagaiberikut :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ.
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf: 179)

Karakter orang yang serakah selalu merasa kurang dengan apa yang diberikan oleh Allah dari hasil usahanya dan disertai dengan perasaan menuntut kepada sang pemberi nikmat ia tidak pernah puas dengan hasil usahanya dan dalam pikirannya tidak ada perasaan qana’ah sama sekali, jiwa yang demikian ini bagaikan banjir yang tidak pernah puas dengan kiriman airnya, bagaikann api yang tidak pernah puas dengan kayu bakarnya dan bagaikan matahari yang tidak pernah puas dengan sinarnya. Karena memang pada dasarnya keserakahan adalah tumbuh dari ‘hati’ yang sakit.

Keinginan ‘ini’ dan ‘itu’ hendaknya dijadikan sebagai motivasi saja, tidak harus dijadikan sebagai hasil seutuhnya. Tidak ada salahnya menggantungkan harapan setinggi langit, tetapi harus selalu dalam kesadaran penuh bahwa manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan dan mempunyai tanggung jawab untuk memlihara terciptanya keserasian dalam hidupa ini, tidaklah karena cita-cita kemudian harus ada yangdikorbankan sungguh biadab jika yang terjadi adalah demikian.

Dari mimbar yang suci ini khatib mengajak kepada diri khatib sendiri dan kepada segenap lapisan masyarakat marilah kita bersama-sama mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah ini, kemerdekaan adalah bagian dari sebuah nikmat, maka marilah kita isi dengan pembangunan yang merata dan maksimal, baik pembangunan moral maupun pembangunan spiritual, kebebasan dalam beragama adalah bagian dari nikmat mari kita isi dengan toleransi, kesehatan dan kesempatan adalah karunia Tuhan marilah kita isi dengan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat untuk orang banyak, perbedaan pendapat adalah rakhmat marilah kita jadikan sebagai kontrol terhadap pendapat yang kita keluarkan.

بارك الله لى ولكم فى القر أن العـظيم و نفعـنى و إياكم بما فيه من الا ية وذكر الحكيم وتقبل منى ومنكم تلا وته إنه هو السميع العلـيم

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s